Ulasan ini kami sampaikan kepada para pembaca khususnya Bapak/Ibu Pengurus Dana Pensiun untuk mendapatkan gambaran dampak yang timbul akibat kurs USD yang telah melampaui Rp.13.000,-, dengan harapan Bapak/Ibu tidak panic dalam memanage portofolio investasinya.

Kenaikan kurs USD terhadap mata uang global termasuk mata uang Rupiah antara lain disebabkan oleh penguatan USD dikarenakan adannya rencana kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) sejak dihentikannya Quantitative Eassing (QE) pada akhir tahun 2014, yang sebelumnya menginjeksi likuiditas berupa pembelian surat utang oleh Negara Amerika sekarang tidak ada lagi. Dilain pihak kebutuhan USD Dalam Negeri cukup tinggi, terutama permintaan swasta guna melunasi utang yang telah jatuh tempo dan untuk pembelian bahan baku yang merupakan barang impor.

Komposisi kepemilikan Asing di Pasar Modal Indonesia per akhir Februari 2015

  • Saham Rp 1.969,50 Trilyun atau 64,88 %
  • Surat Utang Negara Rp 503,87 Trilyun atau 39,53 %
  • Obligasi Korporasi Rp 22,23 Trilyun atau 9,89 %


Dampak Jangka Pendek

Kenaikan kurs USD terhadap Rupiah akan menekan harga Saham dan Surat Utang, satu dan lain hal disamping kebutuhan akan USD yang cukup tinggi ditambah sock/panic dari invertor yang menjual porofolionya, bila hal tersebut terjadi secara besar-besaran akan menambah laju kurs USD yang berdampak turunnya harga Saham dan Surat Utang akan berlanjut.

Dampak Jangka Menengah dan Panjang

Akan tergantung pada masing-masing emiten terhadap ketergantungannya kepada USD; emiten yang operasionalnya menggunakan biaya USD dan pendapatannya Rupiah akan meiss macth dan akan menggerus keuntungan bersihnya, sebaliknya bila emiten yang mempunyai pendapatan USD seperti bahan tambang dan perkebunan akan mendapat keuntungan walaupun harga komoditi belum begitu pulih bahkan masih sedikit tertekan.

Dampak yang cukup signifikan adalah pada harga Surat Hutang Negara, hal tersebut dipicu oleh kekhawatiran Asing yang saat ini memiliki kurang lebih 39,53 %, khusus Obligasi Korporasi tidak begitu besar, hanya saja bagi emiten yang mempunyai kewajiban dan biaya operasionalnya tergantung USD akan berpengaruh terhadap Laba usaha pada akhir tahun nantinya.

Harga Saham juga tidak luput dari pengaruh diatas.

Kami mensarikan analisa dari Chiep Analis Mandiri Sekuritas ( J. D. Rahmat )

J.D Rahamt Membuat prediksi yang cukup moderat dengan target IHSG akhir tahun 2015 sebesar Rp.5.450,- kalau dibanding dengan IHSG akhir tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar Rp.250,- atau 4,80 %, namun pada tahun berjalan diprediksi mengalami fluktuasi pada bulan Juli 2015 IHSG akan mengalami kenaikan ke level Rp 5.800,- , dan turun pada bulan bulan Oktober ke level Rp. 5.300,-

Sedangkan kalau diprediksi per saham cukup beragam, seperti saham perbankan masih mengalami kenaikan kisaran 5 – 7 %, ada yang stagnasi dan bahkan penurunan dari posisi saat ini.

Komposisi Portofolio Investasi Dana Pensiun posisi akhir tahun 2014

  • Pasar Uang 26 %
  • Surat Utang Negara 19 %
  • Saham 16 %
  • Obligasi Korporasi 23 %
  • Reksadana & KIK 7 %
  • Tanah & Bangnan 5 %
  • Lain-Lain 4 %

Bilamana para pengurus dapat memanfaatkan prediksi perkembangan harga instrument pasar modal tersebut dan dikelola secara bijak dan selalu memperhatikan perkembangan harga day to day, tidak panic dan tidak emosional dalam berinvestasi, maka kami yakin hasil usaha di tahun 2015 masih cukup baik, terlebih lagi bila kurs USD segera turun ke harga sesuai prediksi awal.

Selamat Berinvestasi

 

Bambang Sri Muljadi

Direktur Eksekutif ADPI

bandi adpi, 2015-04-01 00:00:00